Opini

KULIAH LAPANG;

BELAJAR SOSIOLOGI YANG MENGINSPIRASI SAMBIL BERAMAL SHOLEH

Oleh

Rachmad K Dwi Susilo

Kuliah lapang merupakan kegiatan baru yang digagas oleh Jurusan Sosiologi UMM mulai tahun 2012. Kegelisahan atas penyelanggaraan kuliah yang monoton dan kurang menginspirasi yang membuat pengelola Jurusan memberanikan diri menyelenggarakan kegiatan baru ini. Di tahun itulah, bertepatan dengan  peralihan kurikulum dimana terdapat mata kuliah baru yang mendukung “semangat” kuliah lapang. Nama mata kuliah tersebut yaitu PAR (Participatory Action Research).

Dari istilahnya saja kita  mudah menebak bahwa kuliah ini pasti diadakan di lapang atau di luar kelas. Tidak heran jika ciri penting kegiatan ini yaitu selalu diselenggarakan di komunitas tertentu, apakah teritori desa atau kota. Kemudian, subjek/objek sasaran belajar adalah komunitas. Bersama masyarakat kita belajar dan menginisiasi kegiatan secara bersama-sama.

Sekalipun sudah ada model penelitian berbasis teks, pengenalan medan lapang harus tetap menjadi ketrampilan para pengkaji Sosiologi. Entah kepentingan Sosiolog apakah sekedar mendiskripsikan, menganalisa kasus-kasus dilapangan atau menginisiasi perubahan-perubahan penting dilapang. Lapang tetap harus menjadi bagian penting yang tidak bisa dilepaskan dari pengkajian Sosiologi kapanpun dan dimanapun.

 Konsep Kuliah Lapang ini sesungguhnya bukan barang baru, sebab praktik yang juga akrab disebut “live in” ini sudah banyak dipraktekkan  rata-rata Jurusan Sosiologi se-Indonesia. Hanya yang masih menjadi persoalan, kadang kuliah lapang ini menjadi praktek  rutin dan konvensional. Tidak ada inovasi-inovasi baru terkait praktek lapang sehingga baik dosen maupun mahasiswa mengalami kejenuhan. Jika dikelola secara baik seharusnya model kuliah ini akan menarik, karena  masyarakat senantiasi berubah alias dinamis, sehingga pasti kita akan menemui banyak hal yang baru.

Ketika penulis menempuh Program Magister Sosiologi di Jurusan Sosiologi di Universitas Gadjah Mada (2009), kebetulan memperoleh  materi Kuliah Lapang ini. Kami bersama dosen-dosen menginap di suatu desa. Kemudian, mencari data-data ke lapangan terkait Dinamika Masyarakat Desa. Dengan instrumen  wawancara dan membagi kuesioner kami datangi rumah warga desa satu per satu. Kemudian menjelang tidur, kami  mendiskusikan hasil temuan-temuan lapangan tersebut.

Demikian juga, ketika penulis berkesempatan mengikuti kuliah lapang di Hosei University, Jepang,  23 Agutus 2014.Ternyata kuliah lapang juga dilakukan tidak beda dengan yang pernah diselenggarakan oleh Jurusan Sosiologi. Di bawah bimbingan Prof.Ikeda Kanji kita melakukan kuliah lapang bertepatan dengan Upacara Natsu Matsurai (Festival Musim Panas) di sebuah desa di Kanagawa. Dalam peringatan tersebut digelar beberapa acara, seperti do’a keselamatan dan pementasan hiburan. Penulis, dan dosen-dosen Hosei University, serta mahasiswa melakukan kuliah lapang dengan menjadi panitia acara dalam acara tersebut. Semangat berbaur antara komunitas desa dengan civitas akademika Jurusan Sosiologi Hosei University terlihat jelas di situ.

 

Description: Description: E:\My Dokument\JEPANG JULI 2014\KanaGAWA\DSC03024.JPG

Kuliah lapang bersama Prof. Ikeda Kanji dan mahasiswa S-1 Jurusan Sosiologi Universitas Hosei, Tokyo

Khusus penulis bersama dengan dosen-dosen di sana, terlebih dahulu berdiskusi dengan pengelola hutan di sana. Semacam studi komparatif pengelolaan hutan yang ramah lingkungan antara kasus di Indonesia dengan kasus di negara sakura tersebut.  Suatu hal menarik dari kuliah lapang ini yaitu diskusi yang menjadi instrumen utama dimana hubungan dosen dan mahasiswa yang demikian cair. Selain mendiskusikan pelaksanaan upacara juga mendiskusikan persoalan-persoalan penting lain. Diskusi ini menjadi santapan wajib dalam kuliah lapang menjelang tidur di kamar masing-masing di penginapan.

Mengapa Kuliah lapang?

Kuliah lapang menjadi kegiatan yang harus dilakukan Jurusan Sosiologi juga tidak lepas dari   membangun kompetensi mahasiswa atau mungkin juga mengasah kemampuan lapang dosen. Seperti kita ketahui bersama bahwa kemampuan pengkaji Sosiologi bukan sekedar berdiskusi dengan teori, tetapi juga mengendalikan kerja-kerja lapang. Kerja-kerja lapang merupakan bagian penting Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat.

                Kuliah lapang pada dasarnya sedang menyemangati mahasiswa untuk melakukan kritik terhadap adanya space di dalam dunia akademik yang seringkali mengalami amnesia terhadap lingkungan sekitar. Padahal “sekitar” adalah mata rantai dimana kita sedang berproses menjadi “Being” ((Ada), terminologi Heideger tentang manusia yang tetap menjadi human, tidak disetir oleh kuasa industri)  bukan menjadi “beings’  ((adaan), terminologi Heideger tentang hilangnya kuasa manusia terhadap dirinya, pada saat tersebut tercerabutlah ruh human dari dirinya, yang ada hanya diri yang tegak berdiri sebatas hanya sebagai etalase. Tidak ada hak terhadap diri, karena hak tersebut telah dirampas oleh produk industri yang justru diciptakan oleh manusia). Itulah yang dikritik oleh Heideger saat diri terhalusinasi oleh gegapnya industri dalam balutan tekhnologi. Pada akhirnya kepedulian akan sekitar terhilangkan jejaknya, tetapi justru sangat peduli dengan yang bukan sekitar (merek-merek populer dari produk gaya masa kini).

Karl Marx, lewat gagasannya yang tertuang daklam bukunya The Poverty of Philoshopy ingin menyampaikan pesan bahwa, filsafat selama ini asyik dalam dunianya sendiri yaitu dunia teori yang dipagari oleh konsep-konsep abstrak. Pada akhirnya bukan aksi kepedulian tetapi kritik-kritik konseptual yang seringkali tidak punya ujung yang jelas. Sebatas menara gading yang terlihat sangat mewah, tidak bisa tersentuh, padahal secara esensi tidak ada sedikitpun kontribusi bagi munculnya semangat emansipatory. Oleh karena itu, dalam pandangan Marx, filsafat harus bergerak dalam tataran praktis yang mau membumi dan bersentuhan langsung dengan realitas. Pada saat itu., ilmu sejatinya sudah menemukan dogmanya, yaitu kemanfaatan bagi masyarakat.

Semangat mengkritik terhadap filsafat itulah yang bermuara pada gagasan-gagasan yang berujung pada munculnya kajian-kajian kritis. Spirit kritis inilah yang pada akhirnya menggiring sosiologi pada ruang yang lebih membumi. Ruang tentang praktik-praktik lapanga berbasis “sekitar”. Sejatinya hidup kita terdiskripsikan secara jelas justru karena ada jejak tentang sekitar. Itulah ruang dimana kesadaran tertinggi kita akan mewujud dalam tindakan-tindakan yang tidak bersifat affirmatif (hanya setengah-setengah), tetapi tindakan penuh tanggungjawab akaterus tumbuh dan hidupnya “sekitar”. Titik inilah sebenarnya yang menurut Jurgen Habermas, bahwa setiap tindakan manusia embaded (terlekat) oleh lebenswelt  (kode kehidupan). Lebenswelt lebih tepatnya dimaknai sebagai artikulasi manusia dalam kehidupan tidak bisa dilepaskan dari dunia terdekat-nya (sekitar). Dalam konteks ini sejatinya Jurgen Habermas sedang mengajak kita untuk berkontemplasi bahwa ada spirit kebaikan dan keberdayaan yang berujung menjadi “power” jika sekitar diberdayakan. Inilah titik dimana semangat PAR (Partisipatory Action Research) sebagai gagasan utama Habermas menemukan ruang tumbuhnya. Oleh karena itu, mari kita belajar sosiologi dengan selalu merayakan Kekuatan Emansipatory, jangan hanya pemikiran, konsep atau teori saja, tetapi juga kemampuan lapangan atau yang dikenal sebagai manajemen lapang. Selain itu juga pengabdian masyarakat yang jelas-jelas membutuhkan kerja lapang, baik itu berbentuk pemberdayaan, pendampingan atau ketrampilan advokasi.  Oleh karena itu apakah berat atau ringan, pragmatis atau idealis, kuliah lapang harus diselenggarakan demi mencapai target tersebut.

Secara kelembagaan, Kuliah  lapang pertama kali digagas oleh Jurusan Sosiologi UMM tanggal 8-9 Desember 2012. Waktu itu bertempat di Pendopo Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Acara yang dilakukan yaitu pelatihan penelitian lapang, malam keakraban bersama masyarakat, senam pagi bersama masyarakat dan outbound. Praktek ini ternyata menginspirasi kegiatan Kuliah Lapang berikutnya di Desa Bulukerto, 22 Maret 2013. Kali ini bertepatan dengan Peringatan Hari Air Dunia. Bekerja sama dengan Karang Taruna dan HIPPAM (Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum) Dusun Cangar, Desa Bulukerto, Jurusan Sosiologi membuat  Panggung Hiburan. Acara di panggung itu diisi baik oleh mahasiswa-mahasiswa Sosiologi UMM maupun warga masyarakat.

Description: Description: D:\AGENDA JURUSAN\SETELAH BORANG\KEGIATAN JURUSAN PASCA AKREDITASI\PERINGATAN HARI AIR 2013\DSC_0371.JPG

Kuliah Lapang di Dusun Cangar, Desa Bulukerto

Acara kuliah lapang terakhir di Desa Giripurno yang bertepatan peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2013. Acara dalam kuliah lapang ini yaitu kuliah lapang di Sumber Gemulo, pentas seni dan outbound. Sama dengan kuliah lapang sebelumnya, semangat membaur dengan masyarakat merupakan ciri khas kuat dalam setiap kuliah lapang yang diselenggarakan Jurusan Sosiologi UMM.

Penting untuk diketahui bahwa Sosiologi merupakan ilmu yang unik, dimana mempelajari Sosiologi tidak sama dengan ilmu-ilmu lain, terutama ilmu eksakta. Hal yang paling nyata terkait laboratorium jurusan. Berbeda dengan laboratorium eksakta yang biasanya dalam gedung, laboratorium Sosiologi yang sesungguhnya di masyarakat, maka kuliah di lapang sama halnya kuliah di laboratorium.

Memang, belajar secara konvensional di dalam kelas, membaca buku, berdiskusi adalah merupakan kewajiban, tetapi jangan berhenti di sini. Harus dilakukan dialog antara teks dengan realitas. Dalam kuliah lapang inilah proses tersebut berjalan,  dimana baik mahasiswa maupun dosen turun lapang. Tujuan turun lapangn yaitu mempelajari langsung Sosiologi dari masyarakat. Sistem pembelajaran seperti ini jelas membedakan dengan belajar Sosiologi di dalam kelas yang banyak berdiskusi sumber-sumber teks dari pada konteks.

Tidak heran jika dalam kuliah lapang akan banyak ditemukan pengetahuan-pengetahuan baru yang tidak terdapat di dalam buku atau hasil-hasil penelitian. Sekalipun belum sistematis, tetapi sangat kompleks. Pada kenyataannya, kita juga menerima nilai-nilai baru dari lapangan seperti kepedulian dan belajar mendengar “amanat penderitaan rakyat”.

Oleh karena itu, mari kita semarakkan Kuliah Lapang Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang. Jika saudara bersemangat, pasti akan mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang menginspirasi dan mendewasakan kita dalam mengaruhi kehidupan sekarang atau yang akan datang…..

Rachmad K Dwi Susilo

Pengajar Mata Kuliah Participatory Action Research di Jurusan Sosiologi UMM

Shared: