Sosiologi
Universitas Muhammadiyah Malang
Sosiologi
Universitas Muhammadiyah Malang

Kegiatan

1. KULIAH TAMU

A. Kuliah Tamu Bersama Prof. Pamela Nylan ( Sosiolog dari New Castle University, Australia)
         Kuliah tamu yang mengambil tema "The New Direction in Sociological Theory" dilaksanakan pada hari Kamis, 8 November 2007 di Ruang Aula BAU Universitas Muhammadiyah Malang. Sekitar 200 peserta yang sebagian besar dari kalangan akademisi yaitu Dosen, mahasiswa S-1 dan S-2 dan Guru-guru SMA dan yang sederajat yang tergabung dalam MGMP Sosiologi memberikan apresiasi yang positif pada kegiatan tersebut. Hal ini bisa dipahami, sebab keinginan untuk memahami teori sosiologi langsung dari expert-nya sudah menjadi  kebutuhan penting bagi kalangan yang sehari-harinya berkutat pada ranah sosiologi. Kuliah tamu yang menggunakan bahasa inggris ini berlangsung lebih menarik lagi karena kemampuan Prof. Pamela Nylan yang mampu menjelaskan wilayah teori dalam lingkar yang lebih aplikatif. Mulai dari Emile Durkheim dengan "An Emphasis on Social Order", Max Weber dengan "Stratification and Bureaucracy", Karl Marx dengan "The Means of Production and the Working Class", Pierre Bourdieu dengan "Cultural capital and Habitus" sampai Stuart Hall dengan "Culture as Identity in the Diaspora"
 

B. Kuliah Tamu Bersama Prof. Aoki Takenobu (Sosiolog dari Nihon University, Jepang)
        
Alhamdulillah tidak lebih dari satu tahun setelah Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang berhasil menghadirkan Prof. Pamela Nylan pada tanggal 8 November 2007. Pada tanggal 6 September 2008 bertepatan dengan hari Sabtu, Jurusan Sosiologi kembali berhasil menghadirkan Sosiolog dari luar negeri untuk  menjadi pemateri pada kuliah tamu. Yang hadir kali ini adalah Sosiolog dari Nihon University, Jepang yaitu Prof. Aoki Takenobu. Tema yang diangkat adalah Kerusakan Lingkungan dalam Perspektif Sosiolog Jepang. Bertempat di Ruang Sidang Masjid A.R. Fachruddin Lantai 1, penjelasan yang disampaikan oleh Prof. Aoki berhasil menarik perhatian peserta ( mahasiswa, dosen, dan guru-guru yang tergabung dalam MGMP Sosiologi Se-Malang Raya ) untuk tidak beranjak dari kegiatan tersebut. Apalagi Penjelasan melalui power point banyak menggunakan bahasa gambar yang merupakan hasil dokumentasi beliau dari kegiatan penelitian yang dilakukan di Yogyakarta. Dengan penjelasan yang membumi tersebut , peserta kuliah tamu seakan-akan berada pada peta permasalahan lingkungan itu sendiri. Kuliah tamu yang tidak sekedar konseptual tapi juga menyadarkan. 
 

C. Kuliah Tamu Bersama Clare Harvey (Assistant Program Officer The Asia Foundation)
          
Kemampuan mahasiswa untuk berdekatan dengan permasalahan sosiologis dalam artian bisa menjelaskan fenomena sosial dalam tradisi teori sosiologi yang disiplin dan paham secara riil permasalahan masyarakat adalah keniscayaan. Artinya harus melekat pada diri mahasiswa sosiologi. Oleh karena itu jurusan punya kewajiban untuk bisa menumbuhkan atmosfir yang bisa merangkum kebutuhan dasar mahasiswa sosiologi tersebut. Membuat kegiatan yang mempertemukan expert dalam bidang yang berlainan menjadi menu wajib yang harus dilakukan jurusan. Alhamdulillah, pada hari Sabtu, 21 Juni 2008 kegiatan tersebut bisa dilaksanakan. Kegiatan yang dikemas dalam bentuk seminar sehari dan dilaksanakan di Ruang Aula BAU UMM ini berhasil menghadirkan pembicara yang beragam. Mereka adalah Hanneman Samuel, Ph.D (Sosiolog UI), drs. Nahrudin, MM (Kepala BAPEKAB Malang), Dr. A. Habib, MA (Direktur Pasca Sarjana UMM) dan Clare Harvey (Assistant Program Officer The Asia Foundation). Tema yang diangkat adalah Paradigma Pembangunan Masyarakat Pasca Kenaikan Harga BBM.
         Seminar ini menarik banyak kalangan untuk hadir. Antara lain, mahasiswa S-1 dan S-2, Dosen, Guru-guru Sosiologi SMA atau yang sederajat yang tergabung dalam MGMP Sosiologi se-Malang Raya. Kemampuan panitia menghadirkan golongan masyarakat (pemulung dan tukang becak ) yang merasa menjadi korban kenaikan harga BBM untuk melakukan testimoni menjadi warna tersendiri dari seminar sehari tersebut yang berhasil memukau peserta seminar. Apalagi pelaku testimoni berhasil menceritakan dengan sangat jujur dan apa adanya ( Misalnya, penghasilan sehari-hari yang tidak mencukupi untuk hidup akibat kenaikan harga barang). Kemampuan pemateri memberi penjelasan dalam ranah yang lebih aplikatif menjadikan seminar sehari terasa lebih hidup. Clare Harvey selaku Assistant Program Officer The Asia Foundation berhasil memberi bobot pada penjelasannya tentang peta masyarakat miskin dengan data-data yang akurat. Atau, Drs. Nahrudin, MM yang merangkum permasalahan pembangunan dengan pendekatan kelokalan (secara spesifik permasalahan pembangunan yang terjadi di Kabupaten Malang). Demikian juga Hanneman Samuel, Ph.D yang secara apik bisa menjelaskan teori-teori dalam ranah sosiologi pembangunan. Dr. Habib juga setali tiga uang. Dengan kemampuan menjelaskan lewat guyonan-guyonan segar menjadikan seminar tersebut berlangsung segar tetapi tetap fokus dan  menarik    

D. Kuliah Tamu Bersama Suharko, Ph.D (Dosen Sosiologi UGM)

E. Kuliah Tamu Bersama Alumni Jurusan Sosiologi FISIP UMM

F. Kuliah Tamu Bersama Dr. Bagong Suyanto, M.Si (Sosiolog Industri UNAIR)

    Dengan Tema : Strategi Pemberdayaan Industri Berbasis Kekuatan Lokal

    Dilaksanakan pada Selasa, 27 November 2012

G. Kuliah Tamu Bersama Moch. Sobirin, S.IP (NGO Desantara Jakarta)

     Dengan Tema : Peran Serta Masyarakat Sipil (Civil Society) Dalam Gerakan Penyelamatan Lingkungan

     Dilaksanakan pada Rabu, 27 Maret 2013

H. Kuliah Tamu Bersama Prof. Dr. Sunyoto Usman, MA (Sosiolog UGM) dan Prof. Dr. Sudarmadji, M.Eng.Sc (Geografi Sosial UGM)

    Dengan Tema : Evaluasi Kritis Sustainable Development Di Indonesia Pasca Orde Baru

    Dilaksanakan pada Selasa, 18 Maret 2014

I. Kuliah Tamu Bersama Dr. Argyo Damartoto (Dosen Sosiologi UNS, Surakarta)

     Dengan Tema : Gender Dalam Ruang Industri

     Dilaksanakan pada Selasa, 14 Oktober 2014

J. Kuliah Tamu Bersama Nanang Qosim, S.sos ( Angota DPRD Kabupaten Lumajang)

    Dengan Tema : Realitas Politik Lokal

    Dilaksanakan pada Rabu 14 Januari 2015

K. Kuliah Tamu Bersama Aoki Takenabu, Ph.D (Sosiolog Jepang) dan Ir. Koderi (Pengiat Lingkungan)

     Dengan Tema : Program Konservasi Lingkungan Berbasis Komunitas Dalam Perspektif Indonesia Dan Jepang

     Dilaksanakan pada Senin, 2 Maret 2015

L. Kuliah Tamu Bersama Bapak Edi Suhartono (Kepala BAPEDDA Kabupaten Malang)

    Dengan Tema : Strategi Pembangunan Berbasis Komunitas

    Dilaksanakan pada Jum'at, 5 Juni 2015

M. Kuliah Tamu Bersama Drs. Amran (Kepala Bidang Perindustrian Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Perindustrian dan Perdagangan)

     Dengan Tema : Industri Kota batu

     Dilaksanakan pada Senin, 11 Januari 2016

N. Kuliah Tamu Bersama Didik Soemintardjo (Budayawan)

     Dengan Tema : Kebudayaan Sebagai Pembangunan\

     Dilaksanakan pada Selasa 26, April 2016

O. Kuliah Tamu Bersama Ir. Suwasono Heddy, MS (Praktisi Audit Lingkungan)

     Dengan Tema : Audit Sosial Lingkungan

     Dilaksanakan pada Selasa, 31 Mei 2016

P. Kuliah Tamu Bersama Prof. Dr. Maria Johanna Christina Schouten

     Dengan tema : Partisipasi Perempuan Dalam Ruang Publik

     Dilaksanakan pada Senin, 24 Oktober 2016


 

KULIAH LAPANG;

BELAJAR SOSIOLOGI YANG MENGINSPIRASI SAMBIL BERAMAL SHOLEH

Oleh

Rachmad K Dwi Susilo

 

Kuliah lapang merupakan kegiatan baru yang digagas oleh Jurusan Sosiologi UMM mulai tahun 2012. Kegelisahan atas penyelanggaraan kuliah yang monoton dan kurang menginspirasi yang membuat pengelola Jurusan memberanikan diri menyelenggarakan kegiatan baru ini. Di tahun itulah, bertepatan dengan  peralihan kurikulum dimana terdapat mata kuliah baru yang mendukung “semangat” kuliah lapang. Nama mata kuliah tersebut yaitu PAR (Participatory Action Research).

Dari istilahnya saja kita  mudah menebak bahwa kuliah ini pasti diadakan di lapang atau di luar kelas. Tidak heran jika ciri penting kegiatan ini yaitu selalu diselenggarakan di komunitas tertentu, apakah teritori desa atau kota. Kemudian, subjek/objek sasaran belajar adalah komunitas. Bersama masyarakat kita belajar dan menginisiasi kegiatan secara bersama-sama.

Sekalipun sudah ada model penelitian berbasis teks, pengenalan medan lapang harus tetap menjadi ketrampilan para pengkaji Sosiologi. Entah kepentingan Sosiolog apakah sekedar mendiskripsikan, menganalisa kasus-kasus dilapangan atau menginisiasi perubahan-perubahan penting dilapang. Lapang tetap harus menjadi bagian penting yang tidak bisa dilepaskan dari pengkajian Sosiologi kapanpun dan dimanapun.

 Konsep Kuliah Lapang ini sesungguhnya bukan barang baru, sebab praktik yang juga akrab disebut “live in” ini sudah banyak dipraktekkan  rata-rata Jurusan Sosiologi se-Indonesia. Hanya yang masih menjadi persoalan, kadang kuliah lapang ini menjadi praktek  rutin dan konvensional. Tidak ada inovasi-inovasi baru terkait praktek lapang sehingga baik dosen maupun mahasiswa mengalami kejenuhan. Jika dikelola secara baik seharusnya model kuliah ini akan menarik, karena  masyarakat senantiasi berubah alias dinamis, sehingga pasti kita akan menemui banyak hal yang baru.

Ketika penulis menempuh Program Magister Sosiologi di Jurusan Sosiologi di Universitas Gadjah Mada (2009), kebetulan memperoleh  materi Kuliah Lapang ini. Kami bersama dosen-dosen menginap di suatu desa. Kemudian, mencari data-data ke lapangan terkait Dinamika Masyarakat Desa. Dengan instrumen  wawancara dan membagi kuesioner kami datangi rumah warga desa satu per satu. Kemudian menjelang tidur, kami  mendiskusikan hasil temuan-temuan lapangan tersebut.

Demikian juga, ketika penulis berkesempatan mengikuti kuliah lapang di Hosei University, Jepang,  23 Agutus 2014.Ternyata kuliah lapang juga dilakukan tidak beda dengan yang pernah diselenggarakan oleh Jurusan Sosiologi. Di bawah bimbingan Prof.Ikeda Kanji kita melakukan kuliah lapang bertepatan dengan Upacara Natsu Matsurai (Festival Musim Panas) di sebuah desa di Kanagawa. Dalam peringatan tersebut digelar beberapa acara, seperti do’a keselamatan dan pementasan hiburan. Penulis, dan dosen-dosen Hosei University, serta mahasiswa melakukan kuliah lapang dengan menjadi panitia acara dalam acara tersebut. Semangat berbaur antara komunitas desa dengan civitas akademika Jurusan Sosiologi Hosei University terlihat jelas di situ.

 

Description: Description: E:\My Dokument\JEPANG JULI 2014\KanaGAWA\DSC03024.JPG

Kuliah lapang bersama Prof. Ikeda Kanji dan mahasiswa S-1 Jurusan Sosiologi Universitas Hosei, Tokyo

Khusus penulis bersama dengan dosen-dosen di sana, terlebih dahulu berdiskusi dengan pengelola hutan di sana. Semacam studi komparatif pengelolaan hutan yang ramah lingkungan antara kasus di Indonesia dengan kasus di negara sakura tersebut.  Suatu hal menarik dari kuliah lapang ini yaitu diskusi yang menjadi instrumen utama dimana hubungan dosen dan mahasiswa yang demikian cair. Selain mendiskusikan pelaksanaan upacara juga mendiskusikan persoalan-persoalan penting lain. Diskusi ini menjadi santapan wajib dalam kuliah lapang menjelang tidur di kamar masing-masing di penginapan.

Mengapa Kuliah lapang?

Kuliah lapang menjadi kegiatan yang harus dilakukan Jurusan Sosiologi juga tidak lepas dari   membangun kompetensi mahasiswa atau mungkin juga mengasah kemampuan lapang dosen. Seperti kita ketahui bersama bahwa kemampuan pengkaji Sosiologi bukan sekedar berdiskusi dengan teori, tetapi juga mengendalikan kerja-kerja lapang. Kerja-kerja lapang merupakan bagian penting Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat.

                Kuliah lapang pada dasarnya sedang menyemangati mahasiswa untuk melakukan kritik terhadap adanya space di dalam dunia akademik yang seringkali mengalami amnesia terhadap lingkungan sekitar. Padahal “sekitar” adalah mata rantai dimana kita sedang berproses menjadi “Being” ((Ada), terminologi Heideger tentang manusia yang tetap menjadi human, tidak disetir oleh kuasa industri)  bukan menjadi “beings’  ((adaan), terminologi Heideger tentang hilangnya kuasa manusia terhadap dirinya, pada saat tersebut tercerabutlah ruh human dari dirinya, yang ada hanya diri yang tegak berdiri sebatas hanya sebagai etalase. Tidak ada hak terhadap diri, karena hak tersebut telah dirampas oleh produk industri yang justru diciptakan oleh manusia). Itulah yang dikritik oleh Heideger saat diri terhalusinasi oleh gegapnya industri dalam balutan tekhnologi. Pada akhirnya kepedulian akan sekitar terhilangkan jejaknya, tetapi justru sangat peduli dengan yang bukan sekitar (merek-merek populer dari produk gaya masa kini).

Karl Marx, lewat gagasannya yang tertuang daklam bukunya The Poverty of Philoshopy ingin menyampaikan pesan bahwa, filsafat selama ini asyik dalam dunianya sendiri yaitu dunia teori yang dipagari oleh konsep-konsep abstrak. Pada akhirnya bukan aksi kepedulian tetapi kritik-kritik konseptual yang seringkali tidak punya ujung yang jelas. Sebatas menara gading yang terlihat sangat mewah, tidak bisa tersentuh, padahal secara esensi tidak ada sedikitpun kontribusi bagi munculnya semangat emansipatory. Oleh karena itu, dalam pandangan Marx, filsafat harus bergerak dalam tataran praktis yang mau membumi dan bersentuhan langsung dengan realitas. Pada saat itu., ilmu sejatinya sudah menemukan dogmanya, yaitu kemanfaatan bagi masyarakat.

Semangat mengkritik terhadap filsafat itulah yang bermuara pada gagasan-gagasan yang berujung pada munculnya kajian-kajian kritis. Spirit kritis inilah yang pada akhirnya menggiring sosiologi pada ruang yang lebih membumi. Ruang tentang praktik-praktik lapanga berbasis “sekitar”. Sejatinya hidup kita terdiskripsikan secara jelas justru karena ada jejak tentang sekitar. Itulah ruang dimana kesadaran tertinggi kita akan mewujud dalam tindakan-tindakan yang tidak bersifat affirmatif (hanya setengah-setengah), tetapi tindakan penuh tanggungjawab akaterus tumbuh dan hidupnya “sekitar”. Titik inilah sebenarnya yang menurut Jurgen Habermas, bahwa setiap tindakan manusia embaded (terlekat) oleh lebenswelt  (kode kehidupan). Lebenswelt lebih tepatnya dimaknai sebagai artikulasi manusia dalam kehidupan tidak bisa dilepaskan dari dunia terdekat-nya (sekitar). Dalam konteks ini sejatinya Jurgen Habermas sedang mengajak kita untuk berkontemplasi bahwa ada spirit kebaikan dan keberdayaan yang berujung menjadi “power” jika sekitar diberdayakan. Inilah titik dimana semangat PAR (Partisipatory Action Research) sebagai gagasan utama Habermas menemukan ruang tumbuhnya. Oleh karena itu, mari kita belajar sosiologi dengan selalu merayakan Kekuatan Emansipatory, jangan hanya pemikiran, konsep atau teori saja, tetapi juga kemampuan lapangan atau yang dikenal sebagai manajemen lapang. Selain itu juga pengabdian masyarakat yang jelas-jelas membutuhkan kerja lapang, baik itu berbentuk pemberdayaan, pendampingan atau ketrampilan advokasi.  Oleh karena itu apakah berat atau ringan, pragmatis atau idealis, kuliah lapang harus diselenggarakan demi mencapai target tersebut.

Secara kelembagaan, Kuliah  lapang pertama kali digagas oleh Jurusan Sosiologi UMM tanggal 8-9 Desember 2012. Waktu itu bertempat di Pendopo Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Acara yang dilakukan yaitu pelatihan penelitian lapang, malam keakraban bersama masyarakat, senam pagi bersama masyarakat dan outbound. Praktek ini ternyata menginspirasi kegiatan Kuliah Lapang berikutnya di Desa Bulukerto, 22 Maret 2013. Kali ini bertepatan dengan Peringatan Hari Air Dunia. Bekerja sama dengan Karang Taruna dan HIPPAM (Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum) Dusun Cangar, Desa Bulukerto, Jurusan Sosiologi membuat  Panggung Hiburan. Acara di panggung itu diisi baik oleh mahasiswa-mahasiswa Sosiologi UMM maupun warga masyarakat.

Description: Description: D:\AGENDA JURUSAN\SETELAH BORANG\KEGIATAN JURUSAN PASCA AKREDITASI\PERINGATAN HARI AIR 2013\DSC_0371.JPG

Kuliah Lapang di Dusun Cangar, Desa Bulukerto

Acara kuliah lapang terakhir di Desa Giripurno yang bertepatan peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2013. Acara dalam kuliah lapang ini yaitu kuliah lapang di Sumber Gemulo, pentas seni dan outbound. Sama dengan kuliah lapang sebelumnya, semangat membaur dengan masyarakat merupakan ciri khas kuat dalam setiap kuliah lapang yang diselenggarakan Jurusan Sosiologi UMM.

Penting untuk diketahui bahwa Sosiologi merupakan ilmu yang unik, dimana mempelajari Sosiologi tidak sama dengan ilmu-ilmu lain, terutama ilmu eksakta. Hal yang paling nyata terkait laboratorium jurusan. Berbeda dengan laboratorium eksakta yang biasanya dalam gedung, laboratorium Sosiologi yang sesungguhnya di masyarakat, maka kuliah di lapang sama halnya kuliah di laboratorium.

Memang, belajar secara konvensional di dalam kelas, membaca buku, berdiskusi adalah merupakan kewajiban, tetapi jangan berhenti di sini. Harus dilakukan dialog antara teks dengan realitas. Dalam kuliah lapang inilah proses tersebut berjalan,  dimana baik mahasiswa maupun dosen turun lapang. Tujuan turun lapangn yaitu mempelajari langsung Sosiologi dari masyarakat. Sistem pembelajaran seperti ini jelas membedakan dengan belajar Sosiologi di dalam kelas yang banyak berdiskusi sumber-sumber teks dari pada konteks.

Tidak heran jika dalam kuliah lapang akan banyak ditemukan pengetahuan-pengetahuan baru yang tidak terdapat di dalam buku atau hasil-hasil penelitian. Sekalipun belum sistematis, tetapi sangat kompleks. Pada kenyataannya, kita juga menerima nilai-nilai baru dari lapangan seperti kepedulian dan belajar mendengar “amanat penderitaan rakyat”.

Oleh karena itu, mari kita semarakkan Kuliah Lapang Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang. Jika saudara bersemangat, pasti akan mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang menginspirasi dan mendewasakan kita dalam mengaruhi kehidupan sekarang atau yang akan datang…..

Rachmad K Dwi Susilo

Pengajar Mata Kuliah Participatory Action Research di Jurusan Sosiologi UMM



 
Shared: